Terminal. Itu tujuan pertama hari ini. Akhirnya, setelah hampir satu tahun kaki ini tak menginjak tanah kelahiran, dalam beberapa jam ke depan akan terinjak juga olehku. Oh, kampung halaman. Betapa rindunya aku dengan suasana disana, terlebih lagi dengan kedua adik perempuanku , dan yang lebih dari itu rindu yang amat dalam untuk kedua orang tuaku. Selamat menanti kehadiran anakmu yang tercinta ini, ibu, ayah..
Bus sriwijaya, tempat dudukku bernomer 8, “yah my lucky number ! Hehe” aku terkikik sendiri saat menerima selembar tiket bus yang menurutku cukup ‘memuaskan’ itu, setelah sekitar 15 menit mengantri seminggu yang lalu. Mantap, aku menuju ke bus yang akan mengantarkanku melepas rindu liburan tahun ini. “yapp ! Itu tempat ku duduk. Tepat disebelah jendela !” Persis seperti yang kuinginkan.
Tapi tunggu dulu, sesuatu yang tak kalah penting adalah teman sebelah bangku yang akan kududuki selama 8 jam kedepan. Menurut pengalamanku yang telah beberapa kali, atau lebih tepatnya selalu , menumpang bus untuk pulang kampung ini, dan alhamdulillah tak pernah sekalipun mendapatkan teman duduk yang sesuai kriteria, setidaknya nyambung diajak ngobrol ini. Dan.. Kita lihat saja nanti, seberapa beruntung aku hari ini.
Oke. Siap. Sekitar 10 menit lagi bus akan berangkat. Bus mulai penuh sesak dengan penumpang yang telah mengambil posisi senyaman mungkin di tempat duduknya masing-masing. Tapi, tempat duduk disebelahku tetap melengang, kosong, dan tak tampak seorang pun akan duduk disana. Sepertinya perjalanan panjang kali ini akan kujalani sendiri disini. Ah, bosan juga rasanya. Ku rogoh kantong kecil di bagian depan tas ranselku, mengambil sebuah ponsel kecil. Log-in to facebook.
“dari pada ga ada kerjaan, mending facebook’an. Itung-itung ngusir bosen lah sambil nunggu bus ‘lepas landas’ hehe”
Sebaris status yang segera di update saat beranda telah terbuka di layar ponsel kecil itu. Buka-buka pemberitahuan, ga ada yang menarik, buka-buka beranda coba-coba liat status orang, ga ada yang menarik, sebagian besar tetap pada topik teratas status yang sering di update anak-anak baru gede jaman ini,galau ga bisa move on. Selain itu, yaaah.. Berisi rencana liburan sana-sini, mau jalan sini-situ, mau ngerjain ini-itu , mau begini-begitu. Ahh.. Ga menarik. Log out, mending dengerin musik. Dengan earphone di kedua telingaku, ku pencet tombol play di sebuah lagu dan ‘sedikit’ kunaikkan volumenya. Suara teriakan kenek bus sriwijaya mulai terdengar nyaring, menyaingi lantunan lagu di telingaku, meneriakkan nama kota tempat tujuan bus ini melaju. Aku memandang ke luar jendela, dan bus perlahan mulai berjalan meninggalkan terminal.
***
“permisi”
“mbak ? Maaf ?”
“permisi mbak, maaf, ini tempat saya.” Sebuah suara sedikit mengganggu kekhusyuk’anku mendengarkan lantunan musik kesukaanku. Tak kuhiraukan. bukan memanggilku, setidaknya itu yang kurasa.
“maaf. Tapi ini tempat saya” volume suara itu mulai terdengar meninggi. Ia mengangkat tas ranselku tepat di depan wajahku. aku menoleh kaget ke arahnya. “apa-apaan nih ? Ganggu aja ! Ngeselin banget sih !” Aku menggerutu dalam hati. Tapi tetap tak mau kuhiraukan, aku kembali memandang keluar jendela.
Tiba-tiba.. Buuukkk
Tas ranselku dijatuhkannya begitu saja di pangkuanku. Sontak aku kaget.
“heiiii.. Apaan nih ?” Refleks mulutku mengucapkan kata itu.
Orang itu diam saja,tampak wajahnya cuek dan yang jelas tak berniat menanggapi apa yang aku ucapkan. Lalu dengan santai dan seenak jidatnya, ia duduk TEPAT disebelahku.
“hei, mas. Ini tempat duduk orang ! Ga boleh diambil gitu aja.” Aku mulai berbicara padanya. Ia mendelik, melihatku sekilas dari sudut matanya.
“aaaahh.. Yang bener aja !” Kekesalanku mulai memuncak melihat tingkahnya yang sok cuek itu.
“mas, di belakang masih ada tempat kosong. Ini tempat udah di pesen sama orang laen.” Aku mencoba menjelaskan.
“oh ya ?” Ia menjawab singkat. “”terus, orangnya mana ?” Ia melanjutkan.
“yah, umm.. Kayaknya ga dateng sih, busnya aja udah jalan 15 menit yang lalu. Tapi, tetep aja, ga boleh seenaknya gitu dong.”
“gitu yah?”
“IYA ! jadi mas, tolong dijaga sedikit sikapnya , dan..”
“dan.. Yang mesen tempat ini, kamu tau siapa ?” Ia bertanya dengan mimik muka yang sedikit menantang.
Aku diam. Nampaknya dia menanti jawaban yang meluncur dari lidahku. Aku menggidikkan kedua bahu naik turun sejenak dan sedikit menggeleng tak pasti. Ia tersenyum, dan .. ia mengangkat jari telunjuknya dan megacungkannya tepat di depan wajahku, kemudian menunjuk ke arah kursi yang telah didudukinya dan wajahnya sendiri secara bergantian. Aku bingung. Aku mengerutkan dahi, dan mungkin melihat perubahan ekspresiku orang itu mengulangi tindakannya tadi. Aku sedikit mengerti, tapi., ah ga mungkin. Kapan dan gimana caranya dia masuk ? Sedangkan bus udah jalan sejak tadi ? Aku sedikit tertawa dan mencoba untuk menyanggah.
“ah, becanda , yang bener aja. Ini tempat dari tadi ga ada orangnya. Ini bus juga udah jalan daritadi. Gimana kamu bisa masuk coba?”
Tampangnya santai. Tetap santai. Ahh… stay cool !
“huhh.. ” ia menghela nafas, lalu mulai bicara.
“mbak, maaf. Kalo masih belum ngerti juga, saya jelasin aja deh. Ini tempat saya.. ”
“ah, tapi, kapan ka…” aku mencoba memotong pembicaraannya dan dia kembali memotong perkataanku.
“daaaaannn… ” lanjutnya tegas. “saya dari tadi keslitan duduk. Ada seorang cewek, yang kayaknya asik banget dengerin musik keceng-kenceng, dan berapa kali dipanggil, tetep ga denger. Parahnya, tasnya yang duduk di tempat saya menghalangi saya buat duduk. paham ?”
Aku diam. Ah speechless ! Ga bisa, ga keren banget nih ! Masa’ aku kalah gini aja ?
Orang itu menaikkan sebelah alisnya, wajahnya tampak menunggu satu kata penyesalan terluncur dari mulutku. Dilematis. Bener-bener ga keren gue !
“emm.. A .. Emm..” Aku ragu untuk berucap.
“ya ?” Dia menjawab tegas.
“yah, sedikit salah paham.” Aku berujar singkat. “dan.. Ya sudahlah, ga masalah juga siapa yang duduk disitu. Have a nice trip yah !” Ku tutup dengan senyum yang memilukan, ah.. Memalukan !
***
“ohh, how poor i am ! ToT memilukan, memalukan. Dan yang lebih pilu, rasa malu ini harus ditanggung selama ia tetap duduk TEPAT disebelahku, selama 8 jam !”
Update status, itu satu-satunya cara untuk meluapkan betapa malunya aku. Tapi, status serupa terlihat di berandaku beberapa menit sebelum statusku.
“how poor i am ! 8 jam bersebelahan dengan orang seperti ini ? Wish a nice trip today.”
Ahh, leganya. Ternyata bukan aku saja yang tersiksa dengan keadaan seperti ini. Karena merasa memiliki nasib yang sama, ku klik ‘suka’ pada statusnya. Padahal ga tau juga sih apa yang dirasakan orang yang meng-update status ini persis dengan apa yang ku tanggap.
Satu jam, baru satu jam. Masih tersisa 7 jam lagi hingga sampai ke tempat tujuan. Huhh.. Kaku juga rasanya mulutku yang biasanya tak pernah berhenti berkicau , kali ini tak mungkin berkicau. Yah, karena ga ada yang bisa diajak berkicau. Bosan rasanya memandang keluar jendela. Aku melirik orang disebelahku. Ia nampak sibuk dengan BB berwarna putih ditangannya, nampak jarinya lincah berkutat di antara tombol-tombol kecil itu, dan majahnya terlihat serius. Sangat serius, hingga membuatku semakin enggan hanya untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Aku menghela nafas panjang.
Ngemil aja ah, dari pada ga ada kerjaan. Aku mengambil tas ransel berwarna abu-abu motif polkadot hitam di pangkuanku. tiba-tiba sebuah ide terbesit di kepalaku, “ah ini dia ! Mungkin ini bisa memperbaiki sedikit kesannya terhadapku”. Dengan menggenggam sebungkus keripik kentang, aku mencoba menyapanya.
“mas..” Aku sedikit ragu. “emm, mas.. Maaf..” Aku memanggilnya.
“emm, ya ?” Dia menjawab, tapi tak menoleh. Ia tetap menatap layar BBnya tanpa menoleh ke arahku. “oh, cueknya orang ini. Sabar..sabar..”
“kenapa ?” Ia berhenti dengan aktvitasnya, lalu sedikit menoleh. Datar. Tanpa ekspresi.
“ini.. Mau ?” Aku menyodorkan sebungkus keripik kentang.
“oh.itu. Enggak, sory.” Ia menjawab sedikit. Aku kecewa. “ah, mungkin dia ga suka.coba yang lain aja !”
“emm, kalo gitu.. Ini ?” Aku mengambil sebotol minuman dari dalam tas, dan kembai menyodorkan padanya.
“enggak,mbak, makasih.” Ia kembali menolak. “ahh.. Ga bisa ! Ga boleh ditolak gitu aja, orang niat baek kok !” Pikiranku mulai terobsesi untuk membuatnya menerima pemberianku. Aku mengambil sekaleng permen fox dalam tas, dan menawarinya kembali. Kali ini, ga boleh gagal.
“ohh.. Kalo gitu. Mau permen mas ?” Dengan ekspresi sedikit berharap.
“ha ?” Dia melihat ke arahku. “makasih, tapi maaf, enggak papa. Kalo mau makan, makan sendiri aja, ga usah sungkan.” Telak ! Aku di tolak mentah-mentah. Dia kira aku cuma mau makan, dan menawarinya hanya karna ‘kesopanan’ ? Basa-basi ? Dengan kesal aku membuka sebungkus keripik kentang dan sebotol jus jeruk yang tadi telah ditolaknya. Semua kekesalanku kulimpahkan pada 2 objek santapan itu. Cukup tragis !
“oke. Bukan salah saya lagi. Anda terlalu cuek, tahukah anda ? Bahkan untuk basa-basi pun anda tak punya minat. Fine, 7 jam, sabar.. Sabar.. 7 jam saya harus sabar dengan orang seperti anda.”
Send, and update. Lanjut makan keripik, minum, makan keripik, minum, satu bungkus dan satu botol telah habis. Makanan penutup, sebungkus permen.
“keripik kentang, minuman, permen ? Cantik-cantik kok tukang asongan neng ? Haha kamu lucu, tapi aneh
”
Sebaris status dari seseorang yang tadi kukira bernasib sama denganku, telah ter-update lebih dulu sekitar 15 menit sebelum statusku. Aku terbelalak. Sedikit terdiam, lalu sedikit melirik ke orang di sebelahku. “ah, bodohnya aku. Mungkin ia berpikiran sama seperti orang ini. Huhh..”
2 jam, ah semakin tak tahan rasanya mulutku terus dibungkam. Apapun caranya, reputasiku yang telah buruk dimata orang ini, harus ku perbaiki. Segera !
Ku perhatikan dia sejenak, dari penampilannya, ia pasti sebaya dengaku, atau mungkin sedikit di atasku. Kucoba untuk menyapanya (lagi), wish me luck !
“emm, jam berapa yah mas ?”
“sepuluh.” Singkat dan jelas, itu jawabannya.
“tepat ?” Aku bersikeras.
“lewat 5.”
“oh, sepuh lewat 5 yah ?”
Dia diam. “Gawat ! Siaga 1 ! Ga boleh diam gitu dong, kalo gini, kemungkinan besar gagal didepan mata !!!”
“ehmm.. Pulang kampung yah mas ?”
“iya.”
“lagi libur semester yah ?”
“he’em.”
“ohh, kuliah ya ?”
“iya.”
“sama dong mas, saya kuliah di un..”
“oh, iya.” Dia tiba-tiba memotong ucapanku,lagaknya ia teringat akan sesuatu , lalu mengambil sesuatu dalam tas kecilnya. Earphone, itu benda yang diambilnya. Dengan gesit ia menghubungkan satu ujung earphone itu ke salah satu lubang penghubung pada BB kecilnya, membuka playlist, memilih lagu, kemudian menyelipkan kedua ujung earphone yang lainnya di telinga kiri dan kanannya. Tepat ! Dummmm ! Tindakannya yang tanpa banyak bicara itu membuat semua seranganku tak berarti, tak-tik propaganda yang bahkan belum sempat aku luncurkan telah di pupuskan oleh tindakannya yang bagaikan bom nuklir, menghancurkan semua semangat pasukan perang sampai ke akar-akarnya sekalipun. STOP ! Cukup. Aku tak akan berbaik hati lagi kali ini. Tak ada kata sabar . Anda cuek, saya bisa lebih cuek , bahkan saya akan jadi orang tercuek yang pernah anda temui dan satu-satunya di hidup anda !
“saya sudah cukup berbaik hati. Saya memang salah di awal, tapi bukan berarti kebaikan saya harus anda tolak sedemikian rupa ! Satu kalimat yang saya harap anda ketahui : anda orang yang paling mengesalkan di hidup saya ! # untuk orang yang duduk TEPAT di sebelah saya.”
Dengan semangat menggebu-gebu, melebihi semangat juang 45 para pahlawan terdahulu, ku ketik kata-demi-kata itu dalam sebuah kotak ‘apa yang anda pikirkan ?’ lalu ter-update lah kata-kata itu sebagai statusku. Ah, meluapkan perasaan di facebook, ga keren banget. Ini kali pertama status facebookku berisi kekesalan dan emosi semata. aku melirik orang yang duduk disebelahku dengan tatapan tajam. Huhh . Ingin rasanya ku lempar ponsel ini ke wajah tampannya itu, sayang banget.. Wajahnya terlalu tampan untuk disakiti. Yah, setidaknya alasan itu yang cukup kuat untuk menahan emosiku. Meskipun tak ada satu senyum kecil terlukis di wajahnya yang selalu serius itu, ia tetap terlihat manis. Jika diperhatikan, dan jika tak ada kejadian seperti di awal aku berjumpa dengannya pagi tadi, aku pasti menilainya sebagai seseorang yang ramah, dan penuh tawa, karna memang seperti itulah sesungguhnya ia terlihat. Sayang, rasa kesal yang memenuhi emosi di pikiranku tak terbendung lagi, melebihi dari semua penilaian positif tentang dirinya. Semua negatif ! Buruk ! Itu penilaianku. Walau memang bersifat subjektif, dan sama sekali tak objektif.
Bosan kembali merubungiku. Setelah beberapa menit, rasa kesal itu sedikit teredam. Kembali aku membuka beranda, melihat beberapa komentar di status yang terakhir ku update. Untunglah, tak ada satupun komentar yang menambah kekesalanku. Aku membalasnya dengan sukacita, sedikit tersenyum dan cukup terhibur.
Eit, tunggu, saat kursor menukik kebawah, terdapat sebaris status cukup menarik perhatianku.
“in the moonlight, your face is glows like a thousand diamond. Hmm.. Lagu yang menenangkan. Lebih dari cukup untuk mengusir semua kejadian yang kurang bersahabat hari ini. ”
Itu , lagu kesukaanku ! Tanpa pikir panjang , ku tambahkan komentar di statusnya.
“i suppose, and your hairflows like the ocean breeze. Secondhand serenade-broken, benar ?
”
Terkirim, ah.. Ada juga yang suka lagu itu. Aku tersenyum dan sedikit bersemangat saat ada pemberitahuan komentarku dibalasnya.
“iya. Suka juga yah ? ”
“banget ! Hehe. Dan the best partnya ‘not a million fights could make me hate you’ hbu ?”
“wah, sama. Tapi, suka juga keseluruhan lagunya. Serenader juga ?”
“iya , belum lama banget sih, tapi udah jatuh cinta banget waktu denger lagunya SS pertama kali. Kamu juga ?”
“iya, tapi udah cukup lama, hehe.. oh ya ? Lagu apa tuh ?”
“a twist in my story, setelah itu langsung tertarik dan download lagu-lagunya SS. Vulnerable, why, awake, suppose, lumayan banyak lah”
“dan semuanya bagus, right ? Hehe wah, dapet temen serenader baru nih. Salam kenal yah
”
“iya,bagus pake banget ! Hehe oke, salam kenal juga
”
Ahh, bahagianya ! Ternyata ga buruk-buruk amat hari ini. Tuhan memang adil, setelah kekesalan yang bertubi-tubi di datangkannya padaku, ada seberkas hikmah dibaliknya. Hehe
Eitt, ada satu pemberitahuan, wah .. Komentarku masih dibalasnya. Kyaaaaaaa
“emm, sory nih, dari tadi saya liat status kamu, kayaknya lagi kesel yah ?”
Apa ? Aku cukup kaget dia tahu tentang itu. Hmm, mungkin dia iseng buka profilku.
“hemm, iya sih. Wah, liat di profil saya yah ? Aduh, emang ga banget yah curhat di facebook.. Malu saya >.< ”
“haha
ga usah malu. Banyak kok orang yang kaya gitu.”
“tapi saya ga biasa, hapus aja deh.”
“ga papa lagi, dari pada di pendam sendiri, ya kan ?”
“ya juga sih. Tadinya saya emosian, jadi ga sadar gitu. He’eh”
“kalo liat status kamu, lagi di perjalanan yah ?”
“iya, lagi di bus sih tepatnya. Hehe ”
“wah, kita sama. Saya juga lagi di bus, mau liburan, pulang kampung.”
“oh ya ? Wow, kebetulan banget !
tapi, kayaknya kamu lebih beruntung dari pada saya deh. Teman duduk saya ga bersahabat banget, ga bisa diajak ngobrol. Diem melulu :/”
“haha menurut saya kamu beruntung
orang disebelah saya malah lebih ngeselin, krasak-krusuk, suka senyum-senyum sendiri, sedikit terganggu juga sih”
“haha ada temen senasib nih. Tapi sumpah deh, ini orang disebelah saya cueknya minta ampun, kalo ditanya jawabnya cuma ‘iya’ , saya niat baik mau nawarin ini itu, malah ga direspon. Dikacangin saya mah”
“wah, kok gitu ? Dia cowok ?”
“iya , cowok, manis sih, tapi sikapnya itu loh, bikin kesel”
“arrogant, dia orangnya gitu , harusnya ga boleh kaya gitulah sama cewek”
“wah, bener banget ! Coba kita aja yang satu bus yah
”
“haha yap, coba kita aja yang duduknya sebelahan
”
“bener banget ! Eh, udah dulu yah, ini busnya mau berenti. See you”
“sip (y) see you too
”
Aaaaaa .. Ingin rasanya aku berteriak, sekencang mungkin. Punya temen ngobrol yang unik, senasib, walau ga tau siapa , bahagia juga rasanya bisa ngeluarin rasa kesal yang menumpuk itu. Aku menoleh ke tempat duduk di sebelahku, orang itu melepas earphonenya dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya,lalu berdiri dan.. Eitt, ia sedikit menabrak seorang gadis yang duduk berseberangan dengannya yang juga sedang berdiri dan sedang mencoba beranjak keluar.
“oh, maaf mbak. Saya ga sengaja, maaf ya..” Orang itu berkata dengan sopan dan terlihat ia meminta maaf dengan tulus, senyumnya mengembang dan terlukis sebuah lesung pipi yang menambah manis senyumnya.
“oh ya, ga papa mas. Saya yang minta maaf” timpal gadis itu. Sedikit gugup rupanya ia, akh, ingin muntah aku melihatnya :p
Aku pun berdiri dan beranjak keluar,keadaan dan perasaan yang benar-benar kontras, antara dunia nyataku dan dunia mayaku. Setelah mencuci muka dan memesan sepiring nasi goreng, aku duduk di sebuah meja kecil di pojok ruangan. Tak lama, seorang cowok berperawakan tinggi duduk di meja yang TEPAT disebelahku bersama 2 orang gadis. Tak perlu kujelaskan siapa cowok itu, yang jelas, dia adalah orang yang beberapa jam terakhir duduk di sebelahku. Dan, hmm.. Salah satu dari gadis disebelahnya adalah gadis yang tadi sempat ditabraknya. Ohohoho modus ! Ternyata cowok itu punya modus yang sedemikian rupa untuk mendekati seorang gadis . Ah, ga keren banget caramu !
Sambil mengunyah sesuap-demi-sesuap nasi goreng di hadapanku, kembali ku buka beranda facebook dan berharap ada pemberitahuan dari teman dunia maya yang baru saja kukenal itu. Sayangnya, keberuntungan memang tak selalu hadir . Tak ada, deretan komentar hanya sebatas tadi saja. Sedikit kecewa.. Dan sedikit iseng, eh lebih tepatnya sedikit penasaran, ku coba buka profilnya. Alif rahardian. Itu namanya, baru sadar ternyata.. Nama yang keren !
Oh, dia kuliah, mahasiswa jurusan HI, satu kota denganku. Hmm.. 8 oktober 1993, dia lebih tua 1 tahun diatasku, heii .. Oktober ? Wah..sama ! Zodiakku dan dia sama, libra . Tunggu, kulihat riwayat sekolahnya, SMP dan SMA-nya, itu.. apa ? Dia sekolah di kota tempat kelahiranku. Ku naikkan kursor ke atas, ku lihat jelas disana tertulis hometown-nya sama persis dengan kota kelahiranku. Ini kebetulan ? Ah.. Semakin penasaran aku.
Ku buka dindingnya, terlihat status-nya beberapa jam yang lalu. Salah satunya adalah status yang telah penuh dengan komentar kami berdua, kursor kubawahkan, statusnya yang kusukai, tentang seorang cewek disebelahnya yang manis, tapi seperti pedagang asongan. Satu lagi, statusnya yang kusukai, adalah status yang kulihat persis sama dengan statusku. Hey, tidak. Ini tidak mungkin, perasaan penasaranku mulai menjadi lebih besar, bukan sekedar ingin tahu saja seperti niat awal keisenganku tadi, tapi lebih !
Semua kesamaan ini benar-benar terlihat semakin logis dipikiranku. Meskipun tak mungkin, tapi perlahan pikiranku mengarah pada seseorang yang duduk di sebelahku. Satu petunjuk terakhir, adalah foto. Itu gambaran jelas yang paling jelas untuk menjawab semua praduga ini. Terbuka, ku perbesar, dan .. Terlihat persis.
“ah, ga mungkin !” Aku berteriak kaget. Hingga beberapa orang disekitarku melihat ke arahku, termasuk cowok itu dan 2 orang gadis disebelahnya. Aku sedikit tersenyum malu-malu.
Kubuka lagi fotonya, dan ku tatap wajah cowok di sebelahku sesekali. Ku perbesar, bahkan foto itu ku lihat sedetail mungkin, ku bandingkan dengan seksama, ku teliti dan sedikit menganalisnya. Namun semua persis. Aku berkeringat dingin. Aku putus asa, tak percaya, terkejut, girang, gembira, lucu, takjub, semua bercampur menjadi satu ! Satu-satunya jalan terakhir untuk memastikan adalah bertanya pada orang itu sendiri.
***
Setelah bus berjalan sekitar 10 menit, pergolakan dalam batinku semakin menjadi-jadi. Sebagian dari diriku mendukungku untuk bertanya dan mengungkap semua fakta agar semuanya jelas, toh kalaupun salah, tak ada ruginya kan ? Tapi mulut dan lidahku bersifat kontra dengan sebagian tubuhku lainnya. Suara dan pembendaharaan kataku selalu tercekat. Terlebih lagi, cowok disebelahku itu kini bersikap manis dan mengobrol dengan teman ‘barunya’ yang duduk berseberangan dengannya.
Huuhh..hopeless. No action. Aku memutuskan untuk kembali duduk diam dan menatap pemandangan di luar jendela. Itu akan membuat perasaanku lebih baik, mungkin.
“kak alif.. Mau permen ?” Gadis diseberang memanggil cowok disebelahku dengan gaya manja dan sok manisnya . Uekh, kupastikan dia anak sma yang baru gede.
“oh , boleh . Saya ambil satu yah. Makasih ” cowok itu mengambil permen itu satu dan tersenyum. Aku tersenyum kecut dan tetap membuang muka.
Tunggu, refleks telingaku memang cukup lambat. Apa tadi aku tak salah dengar ? Sontak aku menoleh kepada orang disebelahku yang sedang membuka bungkusan permen. Ia melihat ekspresi kagetku yang nampaknya terlukis jelas saat itu. Gadis diseberang itu pun melihatnya, lalu menyodorkan kaleng berisi permen kepadaku.
“oh iya.. Kakak juga mau ?” Dia sedikit tersenyum. akh, mereka mengira aku menginginkan permen juga. salah !
“hmm, dia udah punya permen sendiri, kok.” Jawab cowok disebelahku santai.
Aku tertegun. Dia melihat ke arahku. “ya kan ?” Dia kembali berkata.
Aku menatapnya. Lama, tanpa ekspresi. Ia terlihat mulai risih dengan tatapanku.
“kenapa ?” Ia mulai bertanya.
Aku diam, tetap memperhatikan wajahnya.
“hei ? Kenapa dengan wajahku ?” Dia kembali bertanya. Lalu dia sedikit tersenyum dan kembali berujar.
“1 menit lagi kamu tetap liatin muka saya kayak gitu, saya jamin kamu jatuh cinta ! ” dia tertawa kecil.
“aa.. Alif ? ” lidahku mulai berucap. Ia berhenti tertawa dan alis sebelahkanannya sedikit terangkat.
“alif rahardian ? ”lanjutku.
Dia sedikit tergelak. “hey, tau darimana ?”
Aku mengambil handphone mungilku dan membuka statusnya yang berisi percakapan panjang kami berdua, kemudian menyerahkannya ke tangan alif.
“apa ? Kenapa dikasih ke saya ?” Ia masih tak mengerti.
“baca ! Liat, aja.” Aku menyuruhnya membaca semua percakapan itu, dan.. Tak kalah terkejutnya denganku, itulah ekspresinya sesaat setelah sedikit kebingungan dan tak mengerti apa yang sedang ku coba jelaskan padanya.
Dia memandangku, lalu mencocok-cocokkan dengan foto profil facebookku. Haha sama persis dengan yang kulakukan tadi padanya. Aku lega, kurasa dia sudah cukup mengerti. Kuraih kembali ponsel kecilku dari genggamannya.
“salam kenal, aulia oktisah.” Aku mengulurkan tangan padanya. Ia nampak takjub, tak percaya, terkejut, dan berbagai perasaan tak karuan lainnya.
“ooohh… heyy ? Is it true ?” Dia berkata dengan sangat taakjub.
“haha it’s true !” Aku pun menjawab dengan takjub.
“oke, oke. Saya ga tau mau bilang apa. Unbelievable ! Cewek yang beberapa jam yang lalu saya kira berada jauh banget dari saya, ternyata disebelah saya. Lebih takjubnya, objek yang tadi dibicarakan adalah .. Hey, jadi saya cowok cuek dan si arrogant itu.. ?” Dia tertawa sendiri dengan keanehan ini.
“dan.. Yaaaahh .. Cewek tukang asongan itu, saya? Benar ?” Aku mendelik ke arahnya.
“ahh.. Oke, sory, sory. Ga maksud gitu, kok.”
“yah, ga papa, sory juga, saya ga maksud gitu juga.”
“yah, yah. Ga papa juga. Tapi, cowok manis itu ? Hahahaha saya yang kamu bilang manis ! ” dia tertawa terpingkal-pingkal.
Wajahku bersemu merah dan terasa hangat.
“oh, noo ! Yaa.. Ya..” Aku tergagap , tak tau harus berkomentar apa.
“hahaha aduh, sakit perut nih. Kamu juga, cantik-cantik tukang asongan !” Ia kembali menggodaku dan tertawa.
Oh manisnya.. Kami tersenyum dan tertawa bersama, masih takjub dan tak percaya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan mengobrol,sedikit membahas percakapan di facebook tadi yang tak disangka berakhir seperti ini, dan membahas tentang satu sama lain. Bercerita tentang kesukaan , hoby, cerita masa kecil, impian, cita-cita, dan banyak.. Yah, sangat banyak hingga tak terasa waktu 8 jam itu sangat singkat. Bus telah memasuki terminal kota. Kami berpisah di depan loket bus. Sedikit lega, tapi perasaan sedih sedikit terselip di ujung perpisahan ini. Aku mengucapkan selamat tinggal padanya, yang dibalasnya dengan sampai jumpa lagi. Saat aku berbalik, ia berkata : “ aulia .. Jangan lupa like statusku yah ” ia sedikit berteriak karena jarakku dengannya cukup jauh dan suasana cukup ramai. Ia tersenyum, lalu melambaikan tangan ke arahku. Aku mengangguk sambil tersenyum, dan melambaikan tangan juga padanya. Pertemuan dan perpisahan yang manis.
***
bahagianya, setelah cukup lama tak kembali ke rumah tersayang dan keluargaku tercinta, hari ini aku berada di antara mereka. bercengkerama, ngobrol tentang itu ini, suasana keluarga yang hangat dan sangat ku rindukan.
huhh.. aku berbaring di kamarku, ku pandangi sekeliling kamar, lemari, meja belajar, kursi, dan beberapa poster artis girlband dan boyband korea masih terpampang disana. lelah, aku mencoba untuk tidur, namun kejadian hari ini benar-benar menyita pikiranku. ah, lebih tepatnya sang ‘tokoh utama’ di kisahku hari ini lah yang cukup menyita pusat perhatianku. aku mulai mengingat awal pertemuan , hingga berbagai hal yang tak terduga dan prasangka –prasangka negatif tentagnya. aku tersenyum dan tertawa kecil, apalagi ketika teringat upayaku yang enggan meminta maaf namun ingin berbaikan dengannya. haha lucu.
oh ya ! aku teringat kalimat terakhirnya pada detik-detik terakhir perpisahan kami. refleks, ku raih laptop dan mulai log-In ke akun facebookku. ku lihat pemberitahuan, hey , ada satu namanya disana. “alif rahardian mengatakan ia bersama anda di statusnya” ku klik pemberitahua itu. status itu telah terupdate sekitar 4 jam yang lalu. akh, gila ! aku dibuatnya salah tingkah sendiri dengan kalimat-kalimat manisnya itu. aku tersenyum membacanya, kurasakan hangat di pipiku. aku yakin wajahku bersemu merah saat membaca status yang berrbunyi :
“nice trip. unforgettable experience. Tuhan memang punya rencana indah, yang benar-benar tak terduga. apa ini salah satunya ? hehe maaf dan terimakasih untuk hari ini. hope you never forget me. u’re such a little angel , cewek manis tukang asongan – Aulia Oktisah
haha”
LIKE THIS
bus status update
7 januari 2013
Reblogged this on Linda Effendi.
sumpah reee , ketawoo dweek aku
!
haha
ceritanya lucu yah ? thank you
iyo ree